Jumat, 09 Desember 2011
Syariat Islam di Aceh Hidup Segan Mati Takmau
Catatan Wartawan Nagan Raya
Didit Arjuna
Saat ini syariat Islam di Aceh sudah berusia 12 tahun. Karena itu pula patut kita mengevaluasi perjalanan syaraiat Islam di Bumi yang berjuluk Serambi Mekah ini. Hingga saat ini penerapan syariat islam sendiri mulai terasa tertatih-tatih. Bahkan dibeberapa tempat nyaris tidak terdengar.
Akibatnya, pelanggaran terhadap syariat Islam kian sering terjadi. Hal itu dikarenakan penerapan yang tidak berkelanjutan. Aura syariat Islam kini tinggal dalam kantor Agama, Baliho, Sepanduk dan beberapa tempat ibadah. Selebihnya terdengar ketika razia celana ketat berlangsung.
Penolakan secara tidak langsung saat ini sedang terjadi ditengah masyarakat Aceh. Para petugas dan instansi terkait seolah tidak berbuat. Mereka hanya berbuat ketika kucuran dana mengalir. Wajar jika kita menganggap syariat Islam di Aceh hidup segan mati takmau.
Padahal, pada awal-awal lahirnya syariat Islam, berbagai prangkat telah disiapkan. Bahkan Dinas Syariat Islampun lahir, Wilayatul Hisbah (WH). Aceh memang nyaris terdengar sempurna dengan identitas syariat Islamnya.
Bahkan semangat itu semakin terlihat jelas ketika Kantor Pemerintahan harus menggunakan kedua bahasa, Indosesia dan Arab. Bahkan nama Peraturan Daerah (Perda) diganti dengan Qanun.
Namun kini apa yang terjadi, perjalanan syariat Islam di Aceh terkesan mulai tumpul. Kenapa demikian, pertanyaan itu muncul tentunya. Ketika terlalu gampang menghukum masyarakat yang tidak memiliki kedudukan.
Terjadi sebaliknya kepada yang memiliki kedudukan, mereka melenggang keluar Aceh. Hal ini tidak perlu dipungkiri lagi.
Syariat Islam ternyata belum menjamin masyarakat Aceh lulus dari penyimpangan. Pelanggaran demi pelanggaran tetap saja terjadi dengan berbagai bentuk. Kasus amoral dan korupsi masih saja menjadi hiasan menarik di media cetak.
Kemudian, penerapan lulus baca Quran yang diterapkan di berbagai sektor, ternyata tidak juga membawa prestasi ke Agamaan Aceh beranjak bagus. Para calon anggota Legeslatif dan Kepala Daerah yang wajib lulus baca Quran, namun tetap saja tidak mengubah perilaku dari berbagai bentuk penyimpangan.
Demikain pula dari arena MTQ, Aceh dengan syariat Islamnya ternyata masih tertinggal dan terpaut jauh di bawah Papua.
Bahkan ditanah yang berjuluk Serambi Mekah, tidak pula terbebas dari perbuatan amoral. Faktanya, video sekelompok remaja yang berbuat mesum dan tertangkap warga dan direkam melalui video telpon seluler, beredar luas.
Tentunya ini menjadi PR bagi instansi terkait untuk mengungkapnya.
Kini video sepasang remaja yang tertangkap oleh warga, beredar luas ditengah masyarakat Kabupaten Nagan . Jika terus beredar hingga keluar Aceh tentunya semakin membuat tebal wajah Aceh dimata Provinsi lain. //
Perhatikan Masyarakat Lemah
Nagan Raya: Pemerintah yang diharapkan dapat mewakili masyarakat, ternyata masih jauh dari harapan masyarakat. Semua berimbang terbalik. Bagaimana tidak ketika mereka sudah duduk di bangku basah, tidak sedikit dari mereka yang lupa hingga mengabaikan kepentingan rakyat.
Besaran penghasilan dengan hasil kinerja jauh dari harapan, tentunya membuat masyarakat resah. Janji manis hanya sebuah janji palsu yang terdengar indah.
Praktik suap yang merupakan bagian dari korupsi seperti sudah mendarah daging. Hal itu dapat dilihat setiap tender, proyek-proyek yang dikerjakan pejabat plat merah. Masih jauh dari harapan.
Menurut salah seorang warga Kabupaten Nagan Abudiah (7/12), dirinya sangat berharap, apa yang memang sudah semestinya menjadi hak untuk masyarakat pantasnya diberikan. Sehingga masyarakat tidak terus merasa disakiti dengan kinerja yang buruk.
“Jika itu hak rakyat berikan kepada rakyat, jangan penyalurannya terkesan pilih kasih,” ungkapnya.
Kemudian dirinya berharap kepada pemerintah, ketika melakukan pengerjaan terhadap suatu prorek tidak melakukan unsur manipulasi didalamnya. Sebab, aksesnya akan berdampak pada masyarakat kecil.
“Saya cukup berharap masyarakat tidak terus ditempatkan pada posisi yang dirugikan,” ucapnya.
Abudiah
Warga Kecamatan Darul Makmur Berencana Segel Lahan Seluas 2000 Hektar
Nagan Raya: Sebelumnya masyarakat Kecamatan Darul Makmur yang memiliki sengketa lahan dengan pihak Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit Surya Panen Subur (SPS) menggelar aksi didepan Kantor Bupati Nagan Raya.
Masyarakat meminta Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mengambil sikap tegas menangani persoalan HGU perusahaan yang memiliki hingga kini masih berselisih dengan pihak SPS. Sehingga persoalannya tidak terus berlarut.
Hingga saat ini, persoalan tersebut sudah empat tahun mengambang tanpa ada titik terang. Tentunya hal itu membuat masyarakat gerah. Hingga akhirnya menggelar aksi didepan Kantor Bupati.
Melalaui surat yang dikeluarkan saat itu, jelas disebutkan kalau pihak SPS harus menghentikan aktifitas sementara waktu, sebelum persoalan sengketa lahan tersebut dituntaskan.
Disebutkan pula, kalau tanggal 8 Desember masyarakat dan pihak SPS untuk melakukan pertemuan guna menyelesaikan persoalan tersebut.
Namun, ketika dilakukan pertemuan di ruang kerja Wakil Bupati Nagan Raya, kedua belah pihak saling bersibaku mempertahankan lahan yang luasnya tidak kurang 2000 hektar di Kecamatan Darul Makmur.
Kepada wartawan, Ketua Kelompok Tani Makmur Mulia Gampong Kayei Unoe Mazri Ab mengatakan. Pihaknya merasa sangat kecewa dengan tindakan yang dilakukan perusahaan, karena tidak mengindahkan surat putusan yang dikeluarkan Pemda Nagan Raya untuk menghentikan Aktifitas.
“Surat dari Pemda menyebutkan untuk menghentikan aktifitas sementara, selama persoalan sengketa lahan tersebut belum selesai. Fakta yang terjadi, pihak SPS tetap melaksanakan aktifitas,” ucapnya.
Selain itu, pihaknya juga berencana akan menyegel lahan mereka. Sebab, apa yang dilakukan SPS selama ini menurutnya sudah sangat meresahkan warga. Sehingga menurutnya pantas kiranya warga melakukan penyegelan terhadap lahan 2000 hektar tersebut.
Jumat, 07 Oktober 2011
Dirusak
Asib Amin : Baliho pasangan calon Bupati Nagan Raya H Asib Amin yang maju dari jalur perseorangan dirirusak orang yang tidak bertanggung jawab. Baliho milik H Asib Amin yang dirusak tersebut berada di Desa Lueng Teuku Ben Kecamatan Kuala Pesisir Kabupaten Nagan Raya. Foto diambil, Jumat 7 Oktober. Foto// Didit Arjuna
Senin, 18 Juli 2011
‘Duduk Dibesi Kursiroda Terbalut Tali’
Sahfitri Butuh Bantuan Kursiroda
Catatan Didit Arjuna
Dengan tertatih Sahfitri, tetap berangkat mengaji. Hanya itu yang dapat dilakukanya. Sedang untuk bersekolah seperti anak-anak seusianya umumnya. Sahfitri tidak dapat melakukan itu dengan kondisi lumpuh yang dideritanya sejak lahir.
“Anak saya Sahfitri memang tidak sekolah seperti anak-anak yang lain. Itu karena keterbatasan fisiknya sejak lahir,” terang ayah Sahfitri pekan lalu.
Katika ditemui dirumahnya Desa Kayee Unoe Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya, Sahfitri hanya dapat duduk diatas kursiroda yang sebenarnya sudah tidak layak untuk digunakan, sambil menatap anak lain seusianya bermain.
Namun, karena ketiadaan orang taunya, Sahfitri tidak menuntut banyak. Kelihatannya ia memahami betul tentang perekonomian orang tuanya yang pas-pasan.
“Sebenarnya kursiroda itu memang sudah tidak layak untuk digunakan. Tapi saya belum ada uang untuk menggantinya dengan yang baru,” ungkap ayah Sahfitri seadanya.
Bahkan, kursiroda yang saat ini digunakan gadis 14 tahun itu kondisinya memang sudah cukup memperihatinkan. Tepat dibagian sisi kanan bagian depan kursiroda yang sehari-menjadi temannya itu terlihat sudah dipenuhi balutan tali.
Namun, gadis itu tetap sabar duduk diatasnya, karena belum ada pengganti, seperti yang selama ini menjadi keinginannya, serta keinginan orang tuanya. Kepasrahan terpancar dari wajah ayah tiga orang anak itu. demikian juga Sahfitri yang lebih banyak manatap keluar rumah .
Ketiadaan membuat dirinya begitu bersalah. Namun, kenyataan tetap saja fakta yang tidak dapat ditentang. Gadis manis itu tetap sabar menjalani hidupnya dan hari-harinya.
“Sahfitri memang sudah begitu sejak lahir, kakinya tidak bertenaga untuk digerakkan. Sehingga ia harus mengguanakan kursiroda,” ungkap Harianto.
Diceritakannya, sebenarnya Sahfitri dapat berjalan kendati perlahan. Namun hal itu dapat dilakukannya jika ia memegang kursiroda yang dimajukannya perlahan-lahan.
Harianto mengaku, dirinya sangat mengharapkan uluran tangan dari pemerintah. Sebab, selama ini dia merasa bantuan sama sekali tidak ada.
“Kursiroda yang saat ini digunakan dan kondisinya sudah rusak, itu bantuan dari NGO pasca Tsunami,” katanya.
Diceritakannya pula, tidak sedikiat uang yang sudah dihabiskannya untuk kesembuhan anak kedua dari tiga orang bersaudara itu. terlebih-lebih saat usia Sahfitri dia tahun. “Tidak sedikit uang yang sudah dihabiskan untuk biaya perobatan. Saat ini saya sudah tidak lagi memeiliki uang untuk biaya perobatan,” keluhnya.
Diketahui, saat ini dirinya sedang melakukan upaya untuk meminta bantuan kepada pemerintah Kabupaten Nagan Raya. Ia berharap, dengan surat permohonan yang telah dibuatnya itu nantinya pemeintah mau memberikan bantuan kursiroda yang selama ini menjadi mimpi anaknya.
“Empat belas tahun sudah saat usia putri saya. Tentunya, anak seusianya punya keinginan-keinginan sendiri. Seperti membaur dengan anak-anak yang lainanya,” ucap Harianto.
Ditengah pergulatan hiruk pikuk pemerintahan yang dipenuhi dengan yel-yel kemakmuran. Masih saja, orang-orang seperti Sahfitri terlupakan. Kebutuhan mereka terkesampingkan dan terabaikan.
Tangan-tangan cekatan para pemimpin yang katanya jeli. Nyatanya mereka tidak teliti menanggapi orang-orang seperti Sahfitri. Masih berapa banyak lagi Sayfitri yang ada di negeri ini dan terabaikan, duduk di besi kursiroda terbalut tali.
Catatan Didit Arjuna
Dengan tertatih Sahfitri, tetap berangkat mengaji. Hanya itu yang dapat dilakukanya. Sedang untuk bersekolah seperti anak-anak seusianya umumnya. Sahfitri tidak dapat melakukan itu dengan kondisi lumpuh yang dideritanya sejak lahir.
“Anak saya Sahfitri memang tidak sekolah seperti anak-anak yang lain. Itu karena keterbatasan fisiknya sejak lahir,” terang ayah Sahfitri pekan lalu.
Katika ditemui dirumahnya Desa Kayee Unoe Kecamatan Darul Makmur Kabupaten Nagan Raya, Sahfitri hanya dapat duduk diatas kursiroda yang sebenarnya sudah tidak layak untuk digunakan, sambil menatap anak lain seusianya bermain.
Namun, karena ketiadaan orang taunya, Sahfitri tidak menuntut banyak. Kelihatannya ia memahami betul tentang perekonomian orang tuanya yang pas-pasan.
“Sebenarnya kursiroda itu memang sudah tidak layak untuk digunakan. Tapi saya belum ada uang untuk menggantinya dengan yang baru,” ungkap ayah Sahfitri seadanya.
Bahkan, kursiroda yang saat ini digunakan gadis 14 tahun itu kondisinya memang sudah cukup memperihatinkan. Tepat dibagian sisi kanan bagian depan kursiroda yang sehari-menjadi temannya itu terlihat sudah dipenuhi balutan tali.
Namun, gadis itu tetap sabar duduk diatasnya, karena belum ada pengganti, seperti yang selama ini menjadi keinginannya, serta keinginan orang tuanya. Kepasrahan terpancar dari wajah ayah tiga orang anak itu. demikian juga Sahfitri yang lebih banyak manatap keluar rumah .
Ketiadaan membuat dirinya begitu bersalah. Namun, kenyataan tetap saja fakta yang tidak dapat ditentang. Gadis manis itu tetap sabar menjalani hidupnya dan hari-harinya.
“Sahfitri memang sudah begitu sejak lahir, kakinya tidak bertenaga untuk digerakkan. Sehingga ia harus mengguanakan kursiroda,” ungkap Harianto.
Diceritakannya, sebenarnya Sahfitri dapat berjalan kendati perlahan. Namun hal itu dapat dilakukannya jika ia memegang kursiroda yang dimajukannya perlahan-lahan.
Harianto mengaku, dirinya sangat mengharapkan uluran tangan dari pemerintah. Sebab, selama ini dia merasa bantuan sama sekali tidak ada.
“Kursiroda yang saat ini digunakan dan kondisinya sudah rusak, itu bantuan dari NGO pasca Tsunami,” katanya.
Diceritakannya pula, tidak sedikiat uang yang sudah dihabiskannya untuk kesembuhan anak kedua dari tiga orang bersaudara itu. terlebih-lebih saat usia Sahfitri dia tahun. “Tidak sedikit uang yang sudah dihabiskan untuk biaya perobatan. Saat ini saya sudah tidak lagi memeiliki uang untuk biaya perobatan,” keluhnya.
Diketahui, saat ini dirinya sedang melakukan upaya untuk meminta bantuan kepada pemerintah Kabupaten Nagan Raya. Ia berharap, dengan surat permohonan yang telah dibuatnya itu nantinya pemeintah mau memberikan bantuan kursiroda yang selama ini menjadi mimpi anaknya.
“Empat belas tahun sudah saat usia putri saya. Tentunya, anak seusianya punya keinginan-keinginan sendiri. Seperti membaur dengan anak-anak yang lainanya,” ucap Harianto.
Ditengah pergulatan hiruk pikuk pemerintahan yang dipenuhi dengan yel-yel kemakmuran. Masih saja, orang-orang seperti Sahfitri terlupakan. Kebutuhan mereka terkesampingkan dan terabaikan.
Tangan-tangan cekatan para pemimpin yang katanya jeli. Nyatanya mereka tidak teliti menanggapi orang-orang seperti Sahfitri. Masih berapa banyak lagi Sayfitri yang ada di negeri ini dan terabaikan, duduk di besi kursiroda terbalut tali.
Langganan:
Postingan (Atom)

