Tidak sedikit kasus Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang diulang. Hal itu disebabkan permainan kotor yang dilakukan para pasangan calon yang maju. Karana kuatnya ambisi yang ada untuk menjadi pemimpin, membuat mereka gelap mata. Sehingga, suara rakyat dibeli untuk memuluskan ambisinya.
Tanpa disadari, ‘bau bangkai politik Busuk’ itu cepat atau lambat tercium. Hingga akhirnya para pasangan calon yang kalah merasa memiliki kesempatan untuk menggugat. Bahkan dari celah terkacil sekalipun. Hingga akhira Pilkada harus diulang kembali.
Tentunya hal seperti demikian tidak harus terjadi pada Pilkada Aceh kelak. Terutama di Kabupaten Nagan Raya. Karena itu pula, para pasangan yang nantinya akan maju sadar dan paham. Sehingga tidak bertindak curang dengan melakukan ‘Politik Busuk’.
Sehingga, proses Pilkada berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan tidak harus diulang karana akan mengeluarkan dana yang lebih besar, yang tentunya percuma. Memang, Politik uang kelihatannya saat ini sudah seperti menjadi tren sendiri. Sehingga di tanah air, tidak sedikit dijumpai kasus main curang pada pilkada.
=Mengambil Keuntungan
Para pasangan bakal calon sendiri, dalam hal ini juga harus mampu bertindak bijak. Tidak perlu ditanya kenapa. Sebab, tidak sedikit pula dari kalangan masyarkat yang memenfaatkan moment pesta demokrasi demi kepentingan pribadi.
Sebab, dengan iming-imingi dapat memberikan bantuan suara, para bakal calon biasanya tidak segan-segan jika harus merogoh kocek lebih dalam. Fenomena seperti ini sudah sangat umum dilakukan dibelahan bumi pertiwi.
Karena itu, dalam pesta demokrasi yang tidak lama lagi akan dilakukan di tanah serambi. Masyarakat maupun para pasangan yang bakal maju dalam pesta demokrasi harus mampu bertindak bijak. Sebagai mana yang menjadi keinginan masyarakat di Kabupaten ini.
Karena para Tim Sukses (TS) yang ada dan bahkan sampai lapisan paling bawah selakipun, tidak sedikit dari mereka yang memiliki misi tertentu. Yakni mengambil keuntungan pribadi. Bukan mensukseskan salah satu pasangan calon.
=Pecahan Rupiah
Ada juga motif lain, katakanlah salah seorang yang awalnya mendukung salah satu pasangan calon berpindah kelain hati atau pasangan calon lain ketika dirasa aliran dana sudah tidak lagi lancar. Atau tidak lagi memiliki celah atau alasan yang tepat untuk menarik aliran dana.
Hal seperti demikian tentunya sangat tidak mencerminkan tingkah atau prilaku seorang warga yang memiliki moral baik. Demikian juga sebaliknya, para pasangan calon, jika sejak awal pencalonannya saja sudah melakukan tindakan curang, bagai mana jika terpilih dan harus memimpin.
Tentu, karena itu kita selaku masyarakat yang bijak dan tidak ingin dikatakan bodoh harus mampu mengambil sikap tepat. Jangan sampai suara kita terbandrol pecahan rupaih.
Sementara itu, perlu pula kita ketahui. Pemimpin yang tepat, adalah orang yang tidak bertindak curang. Sebab, masyarakat bijak pasti tahu kriteria bagai mana yang akan memimpin Nagan Raya.
*Catatan Didit Arjuna*
Selasa, 19 April 2011
Kantor KPA Sunagan Timur Diresmikan
Nagan Raya-ORBIT: Karena dinilai kurangnya perhatian pemerintah saat ini, terhadap pembangunan maupun terhadap masyarakat Kabupaten Nagan Raya, pantas kiranya Samsuardi selaku putra daerah ikut maju dalam pesta demikrasi Aceh.
Sebagai putra daerah tentu dengan sendirinya dirinya terpanggil untuk untuk segera melibatkan diri secara lansung untuk membenahi pembangunan di kabupaten Nagan Raya. Tentu, sebagai putra daerah, dirinya terpanggil pula untuk melakukan perubahan menuju arah yang lebih maju.
Pada acara peresmian kantor KPA Seunagan Timur (18/4) Samsuardi yang akrab disapa Juragan itu terlihat begitu dekat dan akrab dengan masyarakat.
Majunya samsuardi sendiri turut diusung KPA dan PA Nagan Raya. Hal itu dikemukakan ketua KPA Sagoe Seunagan Timur Ali Hasyim Mulya, yang menyatakan pihaknya mendukung pasangan Samsuardi dan Nur Cholis SP untuk maju. Demikian juga Panitia pelaksana, Raja Muda Nagan T Arif Cam serta Ketua Parta Aceh (PA).
“Kita mendukung sepenuhnya Juragan untuk maju sebagai bakal colon Bupati untuk priode 2012-2017 mendatang,” katanya disela waktu acara peresmian kantor KPA.
Selain itu, pihaknya tidak juga telah mengaku sepakat tidak akan mendukung pasangan lain diluar dari Samsuardi dan Nur Cholis SP.
Untuk alasan tersebut pula, ditengah pesta demokrasi yang akan dilakukan di Aceh dalam waktu dekat ini, masyarakat harus dituntut cermat memilih pasangan balon bupati yang akan maju nantinya, terutama masyarakat di Kabupatan Nagan Raya. Sebab, jika masyarakat tidak bertindak bijak tentunya kedepannya nanti yang rugi adalah masyarakat sendiri. di2t
Sebagai putra daerah tentu dengan sendirinya dirinya terpanggil untuk untuk segera melibatkan diri secara lansung untuk membenahi pembangunan di kabupaten Nagan Raya. Tentu, sebagai putra daerah, dirinya terpanggil pula untuk melakukan perubahan menuju arah yang lebih maju.
Pada acara peresmian kantor KPA Seunagan Timur (18/4) Samsuardi yang akrab disapa Juragan itu terlihat begitu dekat dan akrab dengan masyarakat.
Majunya samsuardi sendiri turut diusung KPA dan PA Nagan Raya. Hal itu dikemukakan ketua KPA Sagoe Seunagan Timur Ali Hasyim Mulya, yang menyatakan pihaknya mendukung pasangan Samsuardi dan Nur Cholis SP untuk maju. Demikian juga Panitia pelaksana, Raja Muda Nagan T Arif Cam serta Ketua Parta Aceh (PA).
“Kita mendukung sepenuhnya Juragan untuk maju sebagai bakal colon Bupati untuk priode 2012-2017 mendatang,” katanya disela waktu acara peresmian kantor KPA.
Selain itu, pihaknya tidak juga telah mengaku sepakat tidak akan mendukung pasangan lain diluar dari Samsuardi dan Nur Cholis SP.
Untuk alasan tersebut pula, ditengah pesta demokrasi yang akan dilakukan di Aceh dalam waktu dekat ini, masyarakat harus dituntut cermat memilih pasangan balon bupati yang akan maju nantinya, terutama masyarakat di Kabupatan Nagan Raya. Sebab, jika masyarakat tidak bertindak bijak tentunya kedepannya nanti yang rugi adalah masyarakat sendiri. di2t
Sawah Enam Desa Kerap Jadi Sasaran Banjir
Nagan Raya-ORBIT: Sawah di enam Desa di Kabupaten Nagan Raya kerap menjadi sasaran terendam banjir saat hujan turun. Enam Desa tersebut, Desa Ujung fatiha, Cot Kumbang, Blang Bintang, ujung Padang, jokja serta Lawabatu.
Menurut juru Bicara KPA Wilayah Nagan Raya Yadi, salah satu penyebab terendamnya persawahan di enam Desa itu disebabkan Krung Trang yang berkelok-kelok dan terjadi pendangkalan yang diakibatkan lumpur pada Krung Trang.
Yadi yang juga ikut melakukan studi langsung kelokasi juga mengatakan. Selain sejumlah persoalan tersebut. Tanggul tinggi milik PT Socfindo juga menjadi salah satu persoalan yang mangakibatkan aliran terkendala saat hujan turun.
Karena itu, diharapkan kedepannya pemerintah Aceh atau yang berkompiten dalam persoalan ini dapat melakukan pelurusan. Sehingga masyarakat yang berprofesi sebagai petani padi tidak harus terus menerus menderita kerugian.
Petani kerap merasa rugi ketika padi mereka terendam banjir. Selain itu, saat hujan turun bahkan petani kerap merasa hawatir terhadap tanaman padi mereka. Persoalan ini juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Sebab menyangkut kepentingan petani dan orang banyak.
Kepada Dinas Pertanian setempat juga sangat dibutuhkan perhatiannya. Agar tidak terkesan tutup mata terhadap para petani. di2t
Menurut juru Bicara KPA Wilayah Nagan Raya Yadi, salah satu penyebab terendamnya persawahan di enam Desa itu disebabkan Krung Trang yang berkelok-kelok dan terjadi pendangkalan yang diakibatkan lumpur pada Krung Trang.
Yadi yang juga ikut melakukan studi langsung kelokasi juga mengatakan. Selain sejumlah persoalan tersebut. Tanggul tinggi milik PT Socfindo juga menjadi salah satu persoalan yang mangakibatkan aliran terkendala saat hujan turun.
Karena itu, diharapkan kedepannya pemerintah Aceh atau yang berkompiten dalam persoalan ini dapat melakukan pelurusan. Sehingga masyarakat yang berprofesi sebagai petani padi tidak harus terus menerus menderita kerugian.
Petani kerap merasa rugi ketika padi mereka terendam banjir. Selain itu, saat hujan turun bahkan petani kerap merasa hawatir terhadap tanaman padi mereka. Persoalan ini juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Sebab menyangkut kepentingan petani dan orang banyak.
Kepada Dinas Pertanian setempat juga sangat dibutuhkan perhatiannya. Agar tidak terkesan tutup mata terhadap para petani. di2t
Jumat, 07 Januari 2011
Separuh Mahasiswa dari 15 ribu Mahasiswa di UMN Pingin Istan
Profesi- Penistaan terhadap dunia pendidikan hingga saat ini ternyata masih tidak terhindarkan. Pasalnya, tidak jarang diruang lingkup perguruan tinggi terjadi penistaan tersebut. Seperti di Universitas Muslim Nusantara (UMN) Medan Sumatra Utara. Para Mahasiswa dengan berat hati suka atau tidak suka terpaksa harus rela kalau Skripsi miliknya dikerjakan oleh Dosen sendiri.
Padahal, menurut keterangan dari sumber, para Mahasiswa tersebut sesungguhnya memiliki judul Skripsi sendiri. Namun, kebanyakan judul mereka tidak disetujui. Tentu, kerena merasa cemas akan terjadi penyulitan, para Mahasiswa yang hendak sidang tersebut dengan berat hati menerimanya.
Tidak sampai disitu saja, bahakan Skeripsi mereka yang dikerjakan Dosen tersebut tidak begitu saja dapat diterima dengan mulus. Mereka harus membayar sejumlah uang kepada Dosen. Tentu ini hal yang sangat tidak pantas dan salah satu perbuatan yang sangat mencoreng citra dunia Pendidikan.
Ketika dikonfirmasi, Humas UMN Ir Zulkarnaen Lubis Msi beberapa waktu lalau mengatakan, persoalan skripsi ditolak atau dirubah untuk menghindari judul berputar-putar disitu saja, atau dengan kata lain untuk menghindari terjadinya plagita.
”Saya luruskan, masalah skripsi ditolak atau dirubah. Apa anda mau kalau judul itu cuma diputar-putar,” kata Julkarnaen yang mengaku dirinya anggota PWI.
Selain itu, Julkarnain yang saat itu bernada tinggi juga mengatakan. “Kamu tahu tidak dengan saya, pernah ketemu saya atau tidak di PWI. Saya orang PWI. Sekarang saya membuka beberapa Surat Kabar di Medan. Jadi saya tahu, ada ruang-ruang tertentu, yang wartawan tidak bisa meliput,” cetusnya ketika dikonfirmasi terkait acara Wisuda Mahasiswa UMN beberapa waktu lalu di Wisma Benteng.
Masih dengan Julkarnaen dan persoalan Skripsi mahasiswa. Ketika Julkarnaen menyinggung persoalan Plagiat, dan ditanya apakah skripsi yang dibuat Dosen dapat dipastikan tidak Plagiat, saat itu Julkarnaen terkesan kaku sampai dia harus mengeluarkan pertanyaan kembali, “Sekarang saya tanya sama kamu, barometernya apa,” lontarnya dengan nada tetap tinggi.
Bahkan sempat diucapkannya tentang ingin instannya para mahasiswa UMN, terutama Separuh maha siswa yang bekerja kususnya, seperti Guru misalnya. “Separuh Mahasiswa dari 15 ribu Mahasiswa di UMN pingin istan, terutama bagi yang bekerja, dia mau instan,” ocehnya.
Ocehan tersebut saat itu cukup mangungkap gambaran boroknya UMN. Kemudian ocehan lain yang sempat dibunyikannya adalah datangnya pernyataan minta tolong dari paramahasiswa itu sendiri.
“Saya pingin cepatlah pak, bagai mana caranya. Apa yang kita katakan, beli buku seperti ini. Buat seperti ini judulnya. Begini-begini, kamu kerjakan. Kamulah umpamanya minta tolong sama saya. ‘pak saya minta tolonglah, saya tidak sanggup,’ apa tindakan kamu. Kamu tidak tahukan. Apa saja kamu tidak tahu. Sama dengan mereka. Berbuat seenak maunya,” sebutnya mencontohkan.
Padahal, seharusnya sebagai pendidik tidak membenarkan jika ada Mahasiswa yang ingin melakukan hal demikaian. Atau dengan kata lain, mencari jalan pintas yang jelas mencoreng dunia pendidikan. Sebab, tidak menutup kemungkinan jika hal demikain dilakukan akan semakin memperburuk generasi selanjutnya yang pasti akan melakukan hal yang sama.
“Sekarang saya Tanya sama kamu peribadi, kamu mau buat skripsi tidak mampu membuatnya, apa kamu bilang sama dosen? Dosen tidak melarang, dosen tidak mengatakan cari mudah. Kamu katakan begini megitu. Ampun saya pak. Jangan munafik kamu mengatakan, semuanya mau murni. Itulah tadi penjualan akademik. Itukan pelanggaran tinggi akademik. Itukan pelecehan akademik. Tapi ketiak ditanya, akhirnya mahasiswa mengaku, kerena alasan sibuk bekerja. Namun jika sudah sepakat begitu silahkan. Tidak sanggup keluar. Toh itu untuk kebaikan masing-masing,” kata Julkarnaen.
Pengamat Hukum Bambang SH menilai, persoalan tersebut menurutnya pelacuran ilmiah atau monopoli pendidikan. Sehingga, terhadap persoalan tersebut Rektor harus memecat oknum yang diketahu melakukan perbuatan itu. Dari pernyataan yang ducapkan Humas tersebut juga menurutnya secara tidak langsung salah satu pembenaran. Itu jelas merusak citra pendidikan.
Satu lagi, seperti yang ditegaskannya, “Dek, tolong dicatat, dalam dunia pendidikan kita tidak mengenyampingkan hal seperti itu. Jangan munafik. Karena salah besar jika kamu memutar balikkan fakta. Karena kamu juga seorang mahasiswa. Kamu memenuhi kemauannya, karena faktanya temen-temen kamu dilapangan juga mengatakan demikian,” tegasnya.
Harusnya dalam persoalan ini, Humas UMN Julkarnaen tidak sepantasnya mengutarakan hal itu. Sebab, dari apa yang dikatakannya sudah dapat ditari kebenaran tentang terjadinya sejumlah penyimpangan di UMN. //-Dap
-0-
Padahal, menurut keterangan dari sumber, para Mahasiswa tersebut sesungguhnya memiliki judul Skripsi sendiri. Namun, kebanyakan judul mereka tidak disetujui. Tentu, kerena merasa cemas akan terjadi penyulitan, para Mahasiswa yang hendak sidang tersebut dengan berat hati menerimanya.
Tidak sampai disitu saja, bahakan Skeripsi mereka yang dikerjakan Dosen tersebut tidak begitu saja dapat diterima dengan mulus. Mereka harus membayar sejumlah uang kepada Dosen. Tentu ini hal yang sangat tidak pantas dan salah satu perbuatan yang sangat mencoreng citra dunia Pendidikan.
Ketika dikonfirmasi, Humas UMN Ir Zulkarnaen Lubis Msi beberapa waktu lalau mengatakan, persoalan skripsi ditolak atau dirubah untuk menghindari judul berputar-putar disitu saja, atau dengan kata lain untuk menghindari terjadinya plagita.
”Saya luruskan, masalah skripsi ditolak atau dirubah. Apa anda mau kalau judul itu cuma diputar-putar,” kata Julkarnaen yang mengaku dirinya anggota PWI.
Selain itu, Julkarnain yang saat itu bernada tinggi juga mengatakan. “Kamu tahu tidak dengan saya, pernah ketemu saya atau tidak di PWI. Saya orang PWI. Sekarang saya membuka beberapa Surat Kabar di Medan. Jadi saya tahu, ada ruang-ruang tertentu, yang wartawan tidak bisa meliput,” cetusnya ketika dikonfirmasi terkait acara Wisuda Mahasiswa UMN beberapa waktu lalu di Wisma Benteng.
Masih dengan Julkarnaen dan persoalan Skripsi mahasiswa. Ketika Julkarnaen menyinggung persoalan Plagiat, dan ditanya apakah skripsi yang dibuat Dosen dapat dipastikan tidak Plagiat, saat itu Julkarnaen terkesan kaku sampai dia harus mengeluarkan pertanyaan kembali, “Sekarang saya tanya sama kamu, barometernya apa,” lontarnya dengan nada tetap tinggi.
Bahkan sempat diucapkannya tentang ingin instannya para mahasiswa UMN, terutama Separuh maha siswa yang bekerja kususnya, seperti Guru misalnya. “Separuh Mahasiswa dari 15 ribu Mahasiswa di UMN pingin istan, terutama bagi yang bekerja, dia mau instan,” ocehnya.
Ocehan tersebut saat itu cukup mangungkap gambaran boroknya UMN. Kemudian ocehan lain yang sempat dibunyikannya adalah datangnya pernyataan minta tolong dari paramahasiswa itu sendiri.
“Saya pingin cepatlah pak, bagai mana caranya. Apa yang kita katakan, beli buku seperti ini. Buat seperti ini judulnya. Begini-begini, kamu kerjakan. Kamulah umpamanya minta tolong sama saya. ‘pak saya minta tolonglah, saya tidak sanggup,’ apa tindakan kamu. Kamu tidak tahukan. Apa saja kamu tidak tahu. Sama dengan mereka. Berbuat seenak maunya,” sebutnya mencontohkan.
Padahal, seharusnya sebagai pendidik tidak membenarkan jika ada Mahasiswa yang ingin melakukan hal demikaian. Atau dengan kata lain, mencari jalan pintas yang jelas mencoreng dunia pendidikan. Sebab, tidak menutup kemungkinan jika hal demikain dilakukan akan semakin memperburuk generasi selanjutnya yang pasti akan melakukan hal yang sama.
“Sekarang saya Tanya sama kamu peribadi, kamu mau buat skripsi tidak mampu membuatnya, apa kamu bilang sama dosen? Dosen tidak melarang, dosen tidak mengatakan cari mudah. Kamu katakan begini megitu. Ampun saya pak. Jangan munafik kamu mengatakan, semuanya mau murni. Itulah tadi penjualan akademik. Itukan pelanggaran tinggi akademik. Itukan pelecehan akademik. Tapi ketiak ditanya, akhirnya mahasiswa mengaku, kerena alasan sibuk bekerja. Namun jika sudah sepakat begitu silahkan. Tidak sanggup keluar. Toh itu untuk kebaikan masing-masing,” kata Julkarnaen.
Pengamat Hukum Bambang SH menilai, persoalan tersebut menurutnya pelacuran ilmiah atau monopoli pendidikan. Sehingga, terhadap persoalan tersebut Rektor harus memecat oknum yang diketahu melakukan perbuatan itu. Dari pernyataan yang ducapkan Humas tersebut juga menurutnya secara tidak langsung salah satu pembenaran. Itu jelas merusak citra pendidikan.
Satu lagi, seperti yang ditegaskannya, “Dek, tolong dicatat, dalam dunia pendidikan kita tidak mengenyampingkan hal seperti itu. Jangan munafik. Karena salah besar jika kamu memutar balikkan fakta. Karena kamu juga seorang mahasiswa. Kamu memenuhi kemauannya, karena faktanya temen-temen kamu dilapangan juga mengatakan demikian,” tegasnya.
Harusnya dalam persoalan ini, Humas UMN Julkarnaen tidak sepantasnya mengutarakan hal itu. Sebab, dari apa yang dikatakannya sudah dapat ditari kebenaran tentang terjadinya sejumlah penyimpangan di UMN. //-Dap
-0-
Senin, 20 Desember 2010
Mahasiswa Tak Mampu Oprasikan Komputer
Bukan persoaalan mudah untuk membangun Sumber Daya Manusia saat ini. Terutama diwilayah atau Desa kecil.
Namu, itu sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah daerah.
Seperti di Desa Lawa Batu Kecamatan Kuala Provinsi Nanggro Aceh Darussalam Kabupaten Nagan Raya.
Pola atau jarak pandang masyarakat masih terkesan dangkal. Terutama mengenai perkembangan teknologi dimana saat ini teknologi sedang berkembang cukup pesat di Tanah Air.
Seperti pengoprasian konputer. Hasil amatan hingga (21/12), dimana generasi muda yang tentunya diharapkan kedepanya dapat membawa kearah perkembangan lebih menjanjikan, masih belum dapat diandalkan.
'Disini anak kuliahan saja belum tentu dapat mengoprasikan komputer,' ungkap Riadi salah seorang warga.
Dia berpendapat pemerintah harus lebih memperhatikan hal ini. Jika perlu Dinas Pendikan memasukkan kegiatan ekstra kepada siswa untuk me mahami komputer./dap
Namu, itu sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah daerah.
Seperti di Desa Lawa Batu Kecamatan Kuala Provinsi Nanggro Aceh Darussalam Kabupaten Nagan Raya.
Pola atau jarak pandang masyarakat masih terkesan dangkal. Terutama mengenai perkembangan teknologi dimana saat ini teknologi sedang berkembang cukup pesat di Tanah Air.
Seperti pengoprasian konputer. Hasil amatan hingga (21/12), dimana generasi muda yang tentunya diharapkan kedepanya dapat membawa kearah perkembangan lebih menjanjikan, masih belum dapat diandalkan.
'Disini anak kuliahan saja belum tentu dapat mengoprasikan komputer,' ungkap Riadi salah seorang warga.
Dia berpendapat pemerintah harus lebih memperhatikan hal ini. Jika perlu Dinas Pendikan memasukkan kegiatan ekstra kepada siswa untuk me mahami komputer./dap
Rabu, 15 Desember 2010
Pindah Pusat Kota Medan
Jalanan di Kota Medan saat ini, tak pernah luput dari yang namanya wacet. 'Sudah seperti Jakarta saja,' itulah ucapan yang kerap terpesit oleh warga Kota Medan.
Cerita tentang macet, tentu didasari tingginya angka kendaraan bermotor setiap tahunnya.
Selain itu, jumlah ruas jalan yang ada di Kota Medan hingga saat ini belum ada perubahan.
Salah satu tindakan pemerintah setempat saat ini, untuk menekan angka kemacetan masih dinilah belum.
Memang upaya telah dilakukan. Seperti pebangunan jembatan layang.
Seperti di Amplas misalnya. Kemudian, Pinang Baris dan Simpang Pos yang direncanakan akan menyusul.
Namun, hal itu tetap saja tidak memiliki pengaruh besar.
Seperti yang pernah diutarakan mantan dramer Ada Band El Ritonga.
Menurutnya kemacetan tersebut dikarenakan pembangunan tertumpu pada inti kota.
Yang dikemukakannya mungkin dapat diterima. Ketika pembangunan atau perkantoran digeser, sehingga warga masyarakat tidak lagi mengarah ke inti kota. /Dap
Cerita tentang macet, tentu didasari tingginya angka kendaraan bermotor setiap tahunnya.
Selain itu, jumlah ruas jalan yang ada di Kota Medan hingga saat ini belum ada perubahan.
Salah satu tindakan pemerintah setempat saat ini, untuk menekan angka kemacetan masih dinilah belum.
Memang upaya telah dilakukan. Seperti pebangunan jembatan layang.
Seperti di Amplas misalnya. Kemudian, Pinang Baris dan Simpang Pos yang direncanakan akan menyusul.
Namun, hal itu tetap saja tidak memiliki pengaruh besar.
Seperti yang pernah diutarakan mantan dramer Ada Band El Ritonga.
Menurutnya kemacetan tersebut dikarenakan pembangunan tertumpu pada inti kota.
Yang dikemukakannya mungkin dapat diterima. Ketika pembangunan atau perkantoran digeser, sehingga warga masyarakat tidak lagi mengarah ke inti kota. /Dap
Rabu, 08 Desember 2010
Sejak Zaman Kolonial
Tindak korupsi hingga saat ini sulit diberangus. Karena itu cukup banyak di negeri ini yang marasa gerah. Mulai dari elemen masyarakat lapisan bawah.
Menurut ketua Himpunan Mahasiswa Islam(HMI) Sumut Samsir Pohan hal itu memang sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda.
Menurut ketua Himpunan Mahasiswa Islam(HMI) Sumut Samsir Pohan hal itu memang sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda.
Langganan:
Postingan (Atom)